....WELCOME TO IKAKUIKI BLOG..... MARI KITA JAGA KEBUDAYAAN KITA !

KIDUNGAN SUNAN KALIJOGO

| | 4 komentar


Peninggalan karya Sunan Kalijaga lainnya adalah wayang dan gamelan yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu, yang sekarang tersimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

Dalam hal pewayangan, Sunan Kalijaga dikenal dengan karya/lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. Cerita Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir, sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat.

Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra dari Wilwantikta, Adipati Tuban. Nama aslinya Raden Said (Raden Syahid), sementara menurut babad, serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Sedangkan gelar “Kalijaga” sendiri banyak berbagai tafsir. Salah satu tafsir, ada yang menyatakan asal kata jaga (menjaga), dan kali (sungai). Versi ini dilandasi dasar pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun di tepi sungai. Ada juga kata itu diambil dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat ia melakukan dakwah.

Salah satu diantara beberapa karya Sunan Kalijaga yang terkenal adalah tembang ataupun Kidung Rumekso Ing Wengi.

ana kidung rumekso ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

SEBAR APEM

| | 0 komentar

Sehari menjelang tradisi sebar apem Yaqowiyu 2 gunungan apem di kirab dari kantor Camat Jatinom menuju masjid Agung Ki Ageng Gribig. Kirab diikuti sejumlah pasukan mulai dari masyarakat biasa hingga keluarga keturunan Ki Ageng Gribig.

Kirab gunungan apem Yaqowiyu dilakukan pada kamis sore dan diawali dari halaman kantor kecamatan jatinom. Kirab 2 gunungan apem lanang dan wadon diiringi sekitar seribuan orang mulai dari pasukan paguyuban Kraton Surakarta (Pakoso) Reog dari Wonogiri hingga para sahabat dan keluarga Ki Ageng Gribig. Disepanjang jalan yang dilalui arak-arakan gunungan apem langsung dipenuhi warga masyarakat Jatinom yang hendak menyaksikan gunungan apem yang akan disebar pada Jumat siang.

Camat Jatinom Joko Purwanto mengungkapkan total pem yang akan disebar dalam acara Yaqowiyu sekitar 85 ribu apem atau seberat 4,5 ton sedangkan apem dibuat secara swadaya masyarakat Jatinim dan diluar Jatinom seperti Karanganom, Ngawen serta daerah Boyolali. Dalam kirabnya gunungan apem singgah sebentar di masjid Alit atau masjid pertama yang didirikan oleh Ki Ageng Gribig. Yang kemudian di kirab menuju di halaman masjid Gedhe DAM diserah terimakan dari masyarakat Jatinom kepada Ki Ageng Gribig yang diperankan oleh Gus Abid tokoh ulama Klaten. Setelah didoakan gunungan apem disemayamkan semalam di masjid Gedhe Jatinom. Sedangkan sejumlah pejabat langsung melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig.

NYADRAN

| | 0 komentar



Bagi masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritus ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban atau Ruwah.

Nyadran dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, di mana nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif.

Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.

Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Songo.

Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak, dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.

Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Selesai melakukan pembersihan makam, masyarakat kampung menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga). Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kenduri itu.

Tiap keluarga biasanya akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama lokal) yang sudah dipilih menjadi rois, maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Doanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Suasana ceria anak-anak tergambar dengan semangat melafalkan amin sambil berteriak. Selesai berdoa, semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.

Pada saat itu ada yang tukar-menukar kue, ada yang asyik ngobrol dengan kanan-kiri, maklum beberapa warga pulang dari perantauan hadir dalam kenduri. Biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tak hadir atau si miskin diberi gandhulan, nasi, kue yang dikemas khusus kemudian diantar ke rumah yang sudah disepakati diberi gandhulan.

Dari tata cara tersebut, jelas nyadran tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotongroyong, guyub, pengorbanan, ekonomi. Bahkan, seusai nyadran ada warga yang mengajak saudara di desa ikut merantau dan bekerja di kota-kota besar.

Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda.

Mengenai pola keberagamaan yang ada di Jawa, C Geertz (1981) melalui penelitiannya di Mojokerto menghasilkan sebuah konsep keberagamaan masyarakat yang bersifat abangan, santri, dan priayi. Ketiganya merupakan akumulasi dari hasil akulturasi budaya lokal masyarakat, Hidhu-Buddha dengan nilai-nilai Islam. Pola interaksi antara budaya lokal dan nilai Islam menjadikan Islam warna-warni.

MULUDAN

| | 0 komentar



Dalam sebuah hajatan haulan (peringatan hari kematian) almaghfurlah KH. Ali Ma’shum di Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta, almaghfurlah KH Fuad Hasyim (Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon) menjelaskan pentingnya menyelenggarakan haulan seorang tokoh. ”Ada tiga alasan kenapa disunnahkan menyelenggarakan holan seorang tokoh masyarakat,” kata Kang Fuad –demikian KH Fuad Hasyim biasa dipanggil.

Pertama, pentingnya arti mengingat kematian. Kita harus selalu ingat bahwa Allah SWT siap mengambil nyawa kita tanpa perlu permisi. Alasan kedua, kita butuh mengenang jasa-jasa orang saleh seperti kiai atau ulama. Kenapa kebutuhan? Jawabnya, agar kita bisa meniru, menghidupkan lagi, menyebarkan, amal-amal saleh yang telah dilakukan olehnya. Dengan kata lain, haulan adalah sebuah upaya melanjutkan sunnah hasanah (tradisi baik) yang telah dilakukan almarhum. Kalau ini bisa dilakukan dengan baik, maka pahala bukan hanya kita yang mendapatkan, tapi juga bagi almarhum.

Alasan ketiga, kata Kang Fuad, tak kalah pentingnya adalah, mendoakan almarhum. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan kirim dungo, mengirimkan doa. Ritual kirim dungo yang dilakukan secara berjama’ah tidak hanya berdimensi transendental (Tuhan), tapi juga sosial. Haulan merupakan forum perjumpaan dan solidaritas sosial (silaturahim). Sebab, dengan berkumpul atau berjama’ah, jaring-jaring sosial akan semakin kukuh.

Saya masih ingat, bagaimana gaya almarhum Kang Fuad menjelaskan makna dan fungsi holan dengan panjang lebar, namun tetap ringan, mudah dipahami dan menghibur. Kang Fuad memang dikenal singa podium. Ia bukan saja alim ilmu agama dan sempurna menguasi retorika, tapi juga bersuara merdu, sehingga ia selalu menyelipkan dua atau tiga lagu berbahasa Arab atau Jawa dalam tiap cermahnya, tentu saja shalawat kepada Nabi SAW tak ketinggalan. “Hebatnya”, Kang Fuad tidak selalu menyelipkan dalil-dalil agama (nash Al-Qur’an, hadits, serta pendapat para ulama). Kenapa “hebat”? Karena ia yakin bahwa “tindakan agama” tidak musti disandarkan pada “dalil-dalil agama” (tekstual/nash, Al-Quran dan hadits). Dan memang, ritual haulan tidak ada dalil agamanya, secara khusus dan tersurat.

HITUNGAN HARI JAWA

| | 1 komentar

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam peradaban "JAWA" banyak kita jumpai aturan-aturan yang bersifat mengikat. Hal ini karena aturan-aturan tersebut merupakan wawasan dari nenek moyang kita yang sudah turun temurun diyakini dan disosialisasikan dalam kehidupan bermasyarakat khususnya dilingkungan masyarakat suku Jawa. Wawasan nenek moyang tersebut dalam kehidupan bermasyarakat disebut dalam istilah " ILMU TITEN". Mengapa disebut demikian ? Hal ini karena aturan-aturan tersebut berdasarkan pengalaman dan pengamatan terhadap hal-hal yang terjadi pada perubahan alam yang dikaitkan dengan kejadian yang berlaku dalam kehidupan mereka saat itu.
Salah satunya adalah perhitungan hari dalam menentukan perjodohan, membangun rumah atau neptu/ weton dari kelahiran seseorang. Saya mengajak para generasi muda, khususnya generasi-generasi suku jawa untuk mengingat kembali sekaligus melestarikan budaya Jawa agar pengetahuan terhadap budaya tersebut tidak hilang begitu saja terlindas oleh kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini. Jangan sampai kita sebagai generasi muda dikatakan tidak pecus atau apatis untuk tidak dapat melestarikan budaya kita sendiri, terlebih kita hidup di pulau Jawa.

Pada kesempatan ini saya mencoba mengulas kembali bagaimana orang tua kita menghitung Neptu/ Weton hari lahir sebagai acuan untuk menentukan baik buruknya suatu rencana yang akan kita laksanakan. Sebagaimana kita ketahui, bahwa hari lahir ( weton ) adalah merupakan awal dari manusia dalam kehidupannya di dunia ini, sangat diperlukan sekali bagi kita untuk mengetahui "Hari Lahir (Weton) " kita masing-masing. Sebagian besar suku Jawa menyakini bahwa merahasiakan hari lahir ( weton ) itu sangat penting, karena dengan diketahuinya hari lahir/ weton seseorang akan mudah bagi orang lain untuk berbuat hal-hal yang bersifat negatif, salah satunya santet atau teluh. Terlepas dari itu semua, tergantung pada keyakinan kita masing-masing.

Untuk menghitung Neptu hari lahir ( weton ) berikut Pasarannya ada pedoman/ patokan angka yang digunakan oleh masyarakat orang jawa, berikut table hari, pasaran dan neptu seperti dibawah ini :

TULADHA RUMPAKA (PANYANDRA KIRAB TEMANTEN )

| | 1 komentar

Wus dumugi unggyan ingkang timuju. Ki Suba Manggala gya asung dhumateng putra temanten sarimbit mulya jengkar saking sasana rinengga, jengkaring putra temanten pindhane Sri Narendra lagya cengkrama kalihan ingkang garwa ( lajeng mungel Ketawang Langengita Srinarendra laras pelog pathet barang )

Panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, padatan kirabing putra temanten punika dipun rumpaka, wondene rumpaka punika wonten kalih, (1) rumpaka panyandra, (2) rumpaka wedharan, keparenga kula ing mriki ngaturaken rumpaka wedharan, binarung swaraning gangsa kang hambabar ketawang Langengita Srinarendra katingal putra temanten jengkar saking sasana rinengga keparenging sedya marak sowan wonten ngarsanipun para rawuh manjing ing panti busana arsa ngrucat busananing kanarendran badhe hangrasuk busana kasatriyan, sinten ta pinangka pangarsaning lampah inggih winastan suba manggala ingkang ateges suba punika sae, manggala punika dados pangarsa ingkang sae, mila mboten mokal lamun ta kadang ………………………………………………. Piniji pinangka pangarsaning lampah ingkang mengku werdi asung pralampita dhateng putra temanten sekalian engeta dhumateng Gusti ingkang akarya loka, mila jejering manggala suba naming setunggal, sinamunging lampah kisuba manggala, talang pati inggih satriya kembar pimilih taruna kang bagus warnane kembar busanane mengku prlampita dhumateng putra temanten tansaha kembar pakartine, kembar cipta, rasa lan karsane, menggah werdinipun satriya prlampita mugi sri atmaja temanten sageta hanglenggahi jejering satriya tama ingkang winengku tri prakawis :
Ada kesalahan di dalam gadget ini